Tuesday, January 13, 2015

FF - Falling For Your Soul - Chapter 2


CHAPTER 2 : MY NAME IS BOBBY

“Aaahh hujan! Kenapa tiba-tiba hujan? Musim yang sangat tidak menentu!” gerutu gadis itu.
“Aku membawa payung, kau mau meminjam?” aku tergerak menawarkan bantuan.
Gadis itu menoleh mendengar suara di belakangnya, “Apa? Siapa kau.. Bo..Bob.. Bobby?” suaranya tergagap. Sesaat kemudian suasana berubah menjadi sunyi. Hanya suara hujan menjadi pengiring saat aku berulang kali memanggil namanya. Namun tidak ada jawaban. Gadis itu tidak sadarkan diri dalam dekapanku.

Bukan hal yang aneh bagiku melihat seseorang tidak sadarkan diri setelah melihat rupaku. Seseorang yang kau yakin telah dimakamkan seketika muncul dihadapanmu. Sebagian orang menganggapku hantu, sebagian lagi menganggap dirinya berhalusinasi saat melihatku. Terserah apa tanggapanmu tetapi hari ini jelas bukan hari yang terburuk. 

Aku pernah merasakan dimaki, dipukul, dilempar menggunakan sepatu, meja, kursi, bahkan garam saat tiba-tiba muncul di rumah seorang ayah yang kehilangan anak tunggalnya. Itulah mengapa sebagian besar pekerjaanku harus dikerjakan secara diam-diam, untuk menghindari kau berteriak ketakutan bisa suatu hari kau bertemu denganku. Pekerjaan yang sangat menarik, bukan?

***

“Nana.. Nana.. kau sudah sadar? Kau bisa mendengarku?” suara Jennie samar-samar membangunkanku. “Apa kau baik-baik saja?”
“Ya, kurasa aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya terlalu lelah...” suaraku tertahan saat aku mengingat pertemuanku dengan Bobby. Apakah ini nyata, atau benar-benar hanya halusinasiku.

Aku memandang ke sekeliling ruangan berusaha mencari lelaki itu, namun aku tidak dapat menemukannya. Ya, mungkin aku terlalu merindukannya sampai aku berhalusinasi.

“Ayo, kuantar kau kembali ke kamarmu.”
“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?”
“Tidak lama. Sekitar satu jam. Mereka bilang seorang laki-laki membawamu kemari.”
“Laki-laki?...”
“Apa yang kau lakukan ditengah hujan? Kau tidak sengaja melakukannya untuk membuatku khawatir bukan?”

Aku tidak menjawab dan hanya tersenyum kepada sahabatku ini. Kami keluar dari ruang kesehatan dan berjalan di sepanjang koridor menuju dormitory sambil terus berpikir. Saat sesosok bayangan menghentikan langkahku.

“Tunggu, kurasa aku melihat sesuatu.”
“Apa? Dimana?”
“Dibelakang kita, dia mengawasi kita. Sama seperti yang dia lakukan kepadaku, dia mengawasiku.”
“Kau sangat aneh hari ini. Aku tidak yakin dengan ucapanmu. Sepertinya kau memang terlalu lelah.”

Jennie mendorong tubuhku dan memaksaku mengikuti langkahnya, aku tidak mampu berkutik. Oh, Nana, apa yang telah terjadi padamu hari ini.
***


Aku merebahkan tubuhku di ranjang dengan perasaan bingung. Aku hampir tertangkap sedang mengikuti mereka. Gadis itu sangat peka, pikirku dalam hati. Ini tidak masuk akal, bagaimana caranya aku dapat bertemu dengannya lagi dan mengatakan bahwa aku adalah Bobby, kekasihnya. Dia akan berteriak memakiku, melempariku dengan barang, atau bahkan lebih buruk dia akan jatuh tidak sadarkan diri saat melihatku. 

“Hey, Bob, are you coming tomorrow?” suara James membuyarkan lamunanku.
“What? Tomorrow?... Aah.. I forgot.. the mask party. Sorry, I don’t think I’m coming.”
“Why? Oh come on, you’re gonna wear a costume, you’re gonna wear a mask, noone’s gonna realize that’s you. You can talk to anyone you want.”
“You’re not cheating your girlfriend, right?”
“How dare you! I’m not that kind of man.”

Pesta topeng yang diadakan kampus kami merupakan acara tahunan untuk semua mahasiswa. Syarat mengikuti pesta ini sangat mudah kau hanya harus menggunakan topeng. Tunggu.. menggunakan topeng.. kalau aku menggunakan topeng, mungkin aku akan dapat berbicara dengan Nana tanpa membuatnya ketakukan atau jatuh pingsan. Mungkin aku perlu mencobanya.

“I’m coming tomorrow.”
“You’re weird man. You’re hiding something.”
Aku tidak berniat menjawab dan hendak kabur sebelum dia bertanya semakin jauh saat tiba-tiba James melingkarkan lengannya yang kekar di leherku serta kakinya mengunci tubuhku sehingga aku tidak dapat bergerak.

“Okay, okay, I’m telling you. Let me go first.”

James melepaskan tubuhku dan aku mulai bercerita. Aku menceritakan pertemuanku dengan gadis itu, bagaimana dia ketakutan melihatku, tentu saja aku tidak menceritakan siapa aku. Kalau aku menceritakannya, James adalah orang berikutnya yang akan berteriak ketakutan.

“Do you really know her?” tanya James di akhir pembicaraan kami
“I can’t even get close to her.” Aku membela diri.
“Have you ever heard about social media?” James menertawakanku.
Pertanyaan terakhir James membuatku merasa menjadi orang yang sangat primitif. Aku menjitak kepalanya dan sesaat kemudian mulai masuk kedalam kesibukanku di depan laptop. Aku mencari segalanya tentang gadis itu, tanggal lahirnya, makanan kesukaannya, warna kesukaannya, kegiatan favoritnya dan segala sesuatu tentang Bobby. Sejenak aku tersadar ini pertama kalinya aku berusaha sekeras ini untuk menjadi orang lain.
***


Bagaimana aku dapat menemukannya? Ruangan ini berisi ratusan orang. Ratusan gadis berpakaian pesta dengan topeng menutupi wajahnya. Seharusnya aku melupakan ide ini sebelum aku terjebak di lautan manusia seperti ini, namun sudah terlambat. Aku mengamati keadaan sekitarku, mengamati setiap orang yang sedang bercengkrama sambil memegang gelas minuman ditangannya, mengamati setiap orang yang sedang menari ditengah lantai dansa, mengamati setiap postur dan gerak tubuh orang-orang yang berlalu-lalang. 

“Hey, miss, be careful!” di ujung ruangan tampak seorang gadis yang tersandung kaki seorang pria.
“Oh, I’m so sorry,” jawab gadis itu sambil membungkukkan badan. 

Aku rasa aku mengenal suara itu dan gerak tubuh itu. Aku memutuskan untuk mengikutinya. Tidak ada salahnya, siapa tahu perasaanku benar. Langkahku terhenti oleh sebuah pintu dihadapanku. Ada sebuah tulisan di pintu itu : Ladies Restroom. Aku menempelkan telingaku ke pintu dan berharap dapat mencuri dengar pembicaraan dari dalam. Aku pasti terlihat sangat menjijikan sekarang, menguping pembicaraan di toilet wanita.

“Oh God, that guy is so hot! You see him, right?”
“Oh, that one tackling me with his legs.”
He wants to know you.”
“You’re so funny.”
“Nanaaa I’m so serious. Why don’t you go asking for his name?”
“Why don’t you?”
Suara tawa terdengar dari dalam. Itu dia. Itu pasti Nana. Pintu toilet terbuka tiba-tiba dan sangat mengejutkanku. Dua orang gadis keluar dan aku melihatnya. Mereka balas menatapku, namun beruntung sepertinya mereka tidak menyadari apa yang kulakukan. Aku memutuskan untuk menarik tangan Nana dan membawanya ke sudut ruangan yang sepi.

“Hei, hei, apa-apaan sih?” seru Nana sambil berusaha melepaskan tanganku. “Kamu siapa? Ngapain sih.. “ kata-katanya terhenti saat dia menyadari siapa aku.

“Sstt... Aku cuma mau kamu dengerin aku,” aku mendekapnya sebelum dia sempat berteriak dan aku berbisik kepadanya. “Aku Bobby, Na. Pacar kamu.”

 

FF - Falling For Your Soul - Chapter 1

Judul : Falling For Your Soul 
Cast : Raina (Afterschool), Song Minho (Winner), Bobby (Ikon), additional casts.
Genre : Romantic, Drama, Supernatural, Angst

Rating : PG 

Length : Short Story
Synopsis : Apa yang akan kau lakukan kalau kau dapat bertemu kembali dengan orang yang telah meninggalkanmu untuk selama-lamanya? Takdir memberikan Nana dan Minho kesempatan kedua untuk menemui orang yang sangat mereka cintai.
Author : Fransiska Marieta 
Author Note : This fanfiction was inspired by Korean Drama “49 Days”. 


CHAPTER 1 : BRAND NEW START

Disanalah dia berbaring, lelaki yang telah mengisi hari-hariku selama tiga tahun ini. Ditengah riuhnya suasana tempat ini, suara tangisan yang menyayat hati, suara orang-orang memanggil namanya dan suara langkah para dokter yang berpacu dengan waktu, hanya satu suara yang tidak terdengar, suara detak jantungnya. Mungkin beginilah dia akan mati. 

”Bobby! Bobby! Jangan tinggalkan aku!” itulah kalimat terakhirku saat dokter menyatakan tak dapat menyelamatkan orang yang kucintai. Lalu semuanya berubah gelap dan aku kehilangan kesadaranku.

***
“Nana.. where are you going?
I beg your pardon sir but I need to go to the restroom,” beginilah alasanku setiap kali aku bosan mengikuti suatu kelas.
“Nana! How dare you leaving me on that class alone!” sebuah suara yang sangat kukenal memakiku saat aku baru beranjak beberapa langkah di depan ruang kelas. “Kalo mau cabut ajak-ajak dong.”

Aku hanya membalasnya dengan tertawa. Dia sahabat baikku, namanya Jennie. Kami bertemu dan menjadi dekat karena kami sama-sama mencintai musik. Tempat ini, London Arts Academy adalah tempat pilihanku untuk melanjutkan studiku, sekaligus tempat yang kupilih untuk melupakan masa laluku. 

Sudah satu tahun sejak kepergiannya dan aku masih belum dapat melupakannya. Mungkin kalau dia masih hidup, kami sudah menikah sekarang. Ya, Bobby mengalami kecelakaan saat mendaki gunung dua hari sebelum dia berencana melamarku. Aku sudah memintanya untuk tidak pergi, tetapi dia tidak mendengarkanku. Menyedihkan bukan? Kesedihan masih sering menghampiriku saat teringat padanya. 

By the way, Na,  I saw him! Orang yang ada di foto di dompet kamu! Bobby!” Aku sedang melamun saat tiba-tiba seruan Jennie mengejutkanku. 

“Tidak mungkin. You get it wrong. He’s dead. Dia ga punya adik atau kembaran. Bobby ga mungkin ada disini,” sahutku meyakinkan Jennie kalau yang dia lihat bukan Bobby, meskipun dalam hati aku berharap dapat bertemu dengannya lagi.
“No! It’s him! I’m sure!”
Aku hanya terdiam sambil terus berjalan dan kembali masuk kedalam lamunanku.
***
Hangatnya cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kamarku memaksaku untuk membuka mata.

“Good morning.”
“I’m hungry, let’s make some breakfast!”
“You do it. I’m getting back to sleep.”
“Ok, but don’t get angry if your egg got burnt.”

Kata-kata James memaksaku untuk bangun dan bergegas menuju dapur dormitory kami sebelum dia menghancurkan sarapan pagiku. Kami adalah teman sekamar di dormitory ini. Don’t get me wrong, he is straight and so am I. He even has a girlfriend.

What are you doing today?” tanyanya penuh semangat.
“Classes.. practice room.. the rooftop..?” jawabku sambil berpikir.
“You’re weird. I’m not asking where are you going!” sahut James sambil menjitak kepalaku. Aku tahu dia hanya berusaha bercanda, tapi entah mengapa perasaanku sedang tidak baik hari ini dan mengakibatkan wajah tampanku menjadi murung.

“You’re looking for that girl again, aren’t you?”
“Ya, sepertinya begitu,” jawabku dengan bahasa yang mungkin dia tidak mengerti.
“Who is that girl anyway? Why are you trying so hard to find her? Hey man, there’s so many hot girls around here. It doesn’t have to be her, right?” 

Aku hanya terdiam dan tidak berminat menjawab pertanyaannya. Nana adalah tugas terakhirku, kataku dalam hati. 

Namaku Bobby, tidak, nama asliku Minho, Song Minho. Kau dapat menyebutku impersonator soul. Sebagai impersonator soul, tugasku adalah menyelesaikan pekerjaan orang-orang yang sudah meninggal, yang belum terlaksana, agar mereka tidak mengganggu kehidupan di dunia. Tidak semua orang dapat kutolong dan tidak semua pekerjaan dapat kuselesaikan, hanya pekerjaan yang membawa kebaikan bagi banyak orang. Sebagai info yang membanggakan, aku pernah menyelamatkan sebuah perusahaan dari kebangkrutan saat sang direktur meninggal dunia. Pekerjaan yang sangat mulia, meskipun saat itu aku harus berubah menjadi seorang kakek tua dengan penyakit parkinson. 

Tidak terhitung sudah berapa kali aku berganti rupa. Setiap rupa hanya bertahan maksimal tiga bulan dan setelah itu aku akan menghilang begitu saja. Dalam waktu tiga bulan aku harus menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan. Sudah lima tahun, sebentar lagi akan berakhir. Sebentar lagi aku akan terbebas. Seandainya perempuan ini lebih mudah ditemukan. Ingatanku melayang pada percakapan satu bulan yang lalu.

“Kenapa harus dia? Kenapa aku harus bantu laki-laki itu? Apa kau tidak tahu betapa sulitnya harus menjadi orang lain, mendekati seorang perempuan, dan dalam waktu tiga bulan memintanya menjadi istrimu? Tugas ini terlalu sulit.” Tanyaku protes.

“Kalau kau memutuskan menolak, usahamu selama hampir lima tahun ini akan sia-sia dan kau tidak dapat kembali dengan alasan apapun,” kata-kata penuh wibawa dari seseorang yang sangat berkuasa. Aku tidak mampu melawannya meskipun aku berharap mendapatkan tugas yang lebih ringan.

Sudah satu bulan sejak aku berada di tempat ini, London Arts Academy. Diatap gedung seni pertunjukan musik ini aku memandang lingkungan sekitar kampus sambil berharap dapat menemukannya. Namun sia-sia. Sejauh mata memandang yang tampak hanya sebuah taman di seberang gedung ini dengan jalanan disekitarnya yang relatif sepi. “Ini tidak biasanya,” pikirku dalam hati. Aku memilih tempat ini untuk mengamati keadaan sekitarku. Pada hari-hari biasa taman di seberang gedung ini akan selalu ramai, tempat itu adalah tempat favorit mahasiswa di kampus ini.

“Nana! What are you doing tonight? Exam is over, let’s have a party with us.” Sebuah suara samar-samar memaksaku untuk berbalik dan mengurungkan niatku untuk beranjak pergi.
Sorry but I skip. I think I need some rest,” jawab gadis itu.
Oh come on. For this once only,” sahut temannya memaksa.
No, but thanks for inviting me,” gadis itu mengakhiri percakapan dan beranjak pergi.

Tanpa sadar aku mengikutinya. Mengikuti setiap langkah yang diambilnya. Ada perasaan lega sekaligus tidak percaya pada diriku. Aku menemukannya. Aku menemukan gadis itu.