CHAPTER 5 : FALLING IN LOVE,
FALLING APART
“Hey, Bobby!
Someone’s looking for you!”
“Where?”
“I’m not sure. But she’s here.. until
ten minutes ago.”
Aku
tidak menghiraukannya dan berlalu pergi sambil memikirkan rencanaku berikutnya.
Aku tahu Nana sudah tidak marah padaku. Dia sudah dapat menerima keberadaanku.
Namun tetap saja, dalam sisa waktuku yang kurang dari satu bulan aku harus
melamarnya dan mendapat jawaban “ya,” suatu hal yang hampir mustahil dapat
kulakukan.
Langkahku
terhenti setelah melihat sosok yang kukenal. Nana sedang duduk melamun seorang
diri di bangku taman. Raut wajahnya tidak menunjukkan keceriaan seperti yang
ditunjukkannya saat pertunjukan siang tadi. Raut wajahnya dipenuhi kebingungan.
“Hai, kau mencariku?” Perkataanku yang tiba-tiba
sangat mengejutkannya.
“Oh, tidak, aku hanya..” Sepertinya gadis itu ingin
mengatakan sesuatu.
“Kau
merindukanku?” Pertanyaanku membuatnya semakin terbelalak tak percaya.
Dia
memperhatikanku dengan sangat seksama lalu kemudian dia berkata, “Hanya karena
kita telah berbaikan tidak berarti aku akan merindukanmu.” Nada jengkelnya
sedikit menggodaku.
“Baiklah
nona cantik, kau tidak perlu merindukanku tetapi kau juga tak perlu menekuk
wajahmu seperti itu,” Kata-kataku berhasil menyunggingkan senyum diwajahnya.
Aku tahu kau masih mencintai Bobby, kataku dalam hati. Ada perasaan senang
tetapi sekaligus sedih di dalam hatiku.
Kami
berbicara dan bercanda sampai malam tiba dan akhirnya berpisah. Sekembalinya
aku ke dalam kamarku, James kembali menghujaniku dengan ocehannya.
“Have you met
her?”
“Why?”
“I know you had!
See? You’re smiling! I see you’re so happy everytime you meet her.”
“You’re wrong.”
“You’re falling
for her. Watchout! There’s a boy falling in love in this room!”
“Hey you, shut
up!”
Aku
melemparkan bantal ke arahnya dan menarik selimut menutupi tubuhku. Sambil
berbaring, aku memikirkannya. Aku menyukainya? Tidak, tidak, aku hanya
melakukan tugasku.
***
Kau
tahu, perasaan paling tidak menyenangkan bagiku adalah saat aku menyimpan rasa
penasaran tetapi tidak dapat menanyakan langsung kepada orang yang dimaksud.
Aku
sedang duduk di bangku taman sambil membiarkan pikiranku melayang dengan bebas
saat tiba-tiba dia menyapaku. Aku sangat terkejut. Tanganku gemetar dan mulutku
membeku saat aku memikirkan kalau-kalau yang kubaca tentang dirinya adalah
benar. Siapa dia sebenarnya?
Ketidaksanggupanku
menanyakan identitasnya membawaku lebih jauh mengenalnya. Kami bercengkrama sepanjang
sore. Walaupun ada perasaan takut yang tidak masuk akal dalam diriku, tapi pada
akhirnya aku menyadari dia tidak menyeramkan seperti yang kubaca, dia hanya
seorang laki-laki biasa. Dan semakin aku mengenalnya, semakin dia tidak tampak
seperti Bobby.
Mulai
dari sifat dan sikapnya, kepribadiannya, cara berbicara, cara berjalan, cara
dia menatapku, dia menggunakan caranya sendiri. Kau ini aneh, bagaimana kau
dapat meniru seseorang kalau kau tidak mempelajari kepribadiannya, kata-kataku
tertahan di dalam hati.
“Kau melamun lagi!” Seruan Jennie lagi-lagi
mengejutkanku.
“Bisakah kau berhenti mengejutkanku? Aku bisa
jantungan kalau kau terus melakukan ini.” Jawabku bernada kesal.
“Kau
yang seharusnya berhenti melamun. Melamun tidak akan menyelesaikan tugas-tugasmu,”
Serunya sambil menunjuk ke arah mejaku.
Aku
memandang setumpuk kertas berisi tugas-tugasku yang seharusnya sudah
kuselesaikan sejak tadi sore. Namun karena pikiranku sedang kacau, aku urung
mengerjakannya. Beginilah akibatnya, mungkin malam ini aku terpaksa kurang
tidur.
“Kau pasti menyukainya, Bobby, laki-laki itu, ya,
kau pasti menyukainya.”
“Berhenti menggodaku, atau aku akan menjodohkannya
denganmu.”
“Kau yakin? Menurutku dia lumayan. Kau tidak akan
menyesal?”
“Aku.. tidak.. “
“Kena
kau!” Jennie tertawa terbahak-bahak.
Penghapusku
melayang dan mendarat tepat di dahinya dan seketika dia berhenti tertawa, Jennie
menunjukkan wajah kesal yang dibuat-buat, lalu masuk kedalam selimutku. Aku
tidak menghiraukannya, aku mengambil alat tulis lalu mulai mengerjakan tugasku.
Aku
menyukainya? Tidak, tidak, aku hanya merasa penasaran. Hanya itu.
***
Dua
minggu kemudian...
Sial.
Pagi ini aku terlambat bangun. Alarmku memutuskan untuk tidak membangunkanku
hari ini. Menyebalkan sekali, aku akan menggantimu sepulang kuliah nanti.
Sir Nichols
adalah seorang yang sangat taat aturan. Dia tidak akan membiarkan siswa yang
terlambat masuk ke kelas dan mengikuti pelajarannya. Sebelum aku dimaki di
hadapan seisi kelas, aku memutuskan untuk berbalik dan tidak melanjutkan
langkahku menuju ruang kelas. Aku menaiki tangga yang terletak beseberangan
dengan sebuah pintu menuju sebuah ruang kecil tempat dulu aku biasa melihat
Nana memainkan pianonya. Tak banyak yang tahu ada sebuah ruangan di bawah
tangga itu, dulu aku menggunakan ruang itu untuk bersembunyi sambil
memperhatikan Nana berlatih piano. Sekarang aku sudah tidak melakukannya lagi,
karena kami sudah tidak lagi bermain petak umpet seperti anak kecil.
Pertemuanku
dengan Nana menjadi semakin sering, baik sengaja maupun tidak sengaja. Dalam
sebagian besar pertemuan kami, bukan dia yang pertama mencariku, tetapi aku
yang pertama mencarinya. Semakin aku mengenalnya semakin aku menyadari dia
adalah sosok yang ramah dan menyenangkan, setidaknya sampai sebelum Bobby meninggalkannya.
Kami
bahkan sering bertukar pesan singkat. Dan dari isi pesan singkat kami aku
merasa Nana masih menyimpan perasaan pada kekasihnya ini. Ada perasaan tidak
nyaman yang kurasakan sekarang. Entahlah. Mungkin aku cemburu pada kekasihnya.
Rasanya
tangga-tangga ini tidak ada habisnya. Aku kelelahan sesaat setelah mencapai pintu
menuju atap gedung. Beberapa hari ini kondisi fisikku semakin tidak baik, aku
menjadi mudah lelah, perasaanku pun menjadi sangat tidak menentu. Mungkin ini
suatu pertanda.
“Ahh
segarnya!” Aku menghirup udara yang ada di hadapanku dalam-dalam. Sambil
merenung, aku teringat pada mimpiku semalam. Aku bermimpi ada disebuah ruangan sempit
tanpa udara. Rasanya sesak dan sangat sulit untuk bernapas. Ada kesunyian yang
mencekam, tidak ada suara, dan aku hanya bisa mencium aroma wewangian yang
dibalurkan pada tubuhku. Dari sebuah jendela kaca aku dapat melihat Nana sedang
berdiri bersandar pada dinding sambil menangis, dia berusaha menahan tubuhnya
agar tidak terjatuh. Dihadapannya terdapat sebuah foto, aku tidak yakin siapa
yang ada di dalam foto itu. Sebelum aku sempat mendekatinya, aku terbangun dari
tidurku.
Perasaan
sedih seketika melandaku. Namun aku tidak mau berlarut-larut. Aku harus
menyelesaikan apa yang harus ku selesaikan. Aku harus melamarnya.
Aku memikirkan segala kemungkinan yang dapat
terjadi. Jika Nana menolak lamaranku, untuk mempertahankan gengsiku aku akan mengatakan
padanya aku hanya bercanda... tetapi tetap saja itu artinya aku telah gagal, dan
jika Nana menerima lamaranku, tidak, gadis itu pasti gila jika dia menerimanya,
kami baru saja berkenalan. Tapi tunggu dulu, jika.. hanya jika dia menerimanya
artinya tugasku berhasil.. lalu aku akan pergi begitu saja... aku akan
menghilang ditengah kebahagiaannya.. dan aku akan menghancurkan hatinya lagi.
Keraguan menghampiriku. Apa yang harus kulakukan?
No comments:
Post a Comment