Showing posts with label Kpop. Show all posts
Showing posts with label Kpop. Show all posts

Wednesday, January 14, 2015

FF - Falling For Your Soul - Chapter 7


CHAPTER 7 : AWAKENED

Seoul, Korea Selatan.
“Minho! Minho! Apa kau dapat mendengarku?” Sebuah suara memanggilku saat aku baru membuka mataku.
“Syukurlah kau sudah sadar.”
“Apa yang terjadi? Dimana aku?”
“Tenanglah, kau akan baik-baik saja.”
“Dia tersadar dari tidur panjangnya selama lebih dari lima tahun, dia laki-laki yang luar biasa.”
Aku tersenyum sambil memandang orang-orang disekelilingku, namun pandanganku kembali kabur dan aku kembali jatuh tertidur.
***
London, Inggris. Satu tahun kemudian..
“Oh yeah, this is the one and only Song Minho! Congratulations, bud, you get that full scholarship. I envy you.”
“Haha, thanks! And I envy you for your girlfriend.”
“Don’t you dare!”
“I’m just kidding. I have another place to go. See you later.”
Aku berjalan meninggalkan papan pengumuman yang menampilkan namaku sebagai penerima beasiswa penuh institusi ini untuk dua tahun kedepan dan segera menuju tempat favoritku.

Aku memandang anak tangga dihadapanku, setelah berjalan beberapa menit akhirnya aku tiba di depan sebuah pintu. Aku membuka pintu di hadapanku dan tampak sebuah ruang terbuka yang cukup luas. Dari tempat ini kau dapat memperhatikan lingkungan disekitarmu dengan leluasa. Ya, kau dapat melakukannya, sama seperti yang kulakukan satu tahun yang lalu, aku memandang gadis itu dari tempat ini. Dan sekarang aku telah kembali kesini. Nana, aku sangat merindukanmu, apa kau juga merindukanku? Tanyaku dalam hati.

Suara dentingan piano menyadarkanku dari lamunan panjangku. Aku terdiam sejenak dan akhirnya memutuskan untuk kembali sambil mencari sumber suara itu.

Sebuah ruang kecil disamping gedung pertunjukan utama masih tertata dengan rapi. Cat di dindingnya, perabotan di dalamnya, dan sebuah piano tua yang masih menghasilkan suara yang merdu, masih persis sama seperti dalam ingatanku satu tahun yang lalu. 

Lalu aku melihat gadis itu sedang duduk di depan piano. Jari-jari lincahnya berlarian kesana kemari di atas tuts-tuts piano. Senyum tersungging di wajahnya. Nana. Gadis itu ada disini. Aku tidak mempercayai penglihatanku sendiri. Aku menatapnya, sesaat dia tersadar dan berbalik menatapku. Mata kami bertemu. Ada keheningan yang seketika tercipta.

“Oh sorry, do I know you?” Tanyanya memecah keheningan.
“Nana?” Aku balik bertanya.
“Ya, dan kau..?”
“Sudah berapa lama kau ada disini? Berapa lama lagi waktu yang kau punya?” Aku bertanya untuk memastikan kalau-kalau dia seorang impersonator sepertiku dulu.
“Tunggu! Kau bisa berbahasa Korea? Siapa kau? Apa maksudmu? Kau mahasiswa baru? Aku sudah disini jauh lebih lama dari...”
Aku mengenal ekspresi itu. Ekspresi yang selalu penuh tanya. Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, aku mendekat dan memeluknya erat.

“Minho?.. Song.. Minho?” Tanyanya ragu-ragu.

Aku menjawab dengan anggukan. Dia masih mengingatku sama seperti aku mengingatnya.

“Tapi bagaimana mungkin? Kau masih hidup?” Nana memandangku dengan tatapan tidak percaya.
“Aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu.”

Untuk sesaat kami melupakan apa yang telah terjadi, kami berpelukan erat untuk melepas kerinduan yang telah lama ada. 

“Apa kau ingin aku menceritakan kisahku?” Tanyaku, “Baiklah, tapi kau harus berjanji kau tidak akan berteriak ketakutan, ataupun jatuh pingsan saat mendengarnya.” Aku tersenyum menggodanya.

“Mudah saja, aku tidak akan memercayaimu kalau menurutku ceritamu tidak masuk akal.” Nana berbalik menggodaku dengan senyumnya. Aku tidak merasa keberatan sama sekali.

Selama satu hari penuh kami saling bercanda sambil bertukar cerita. Dimulai dari apa yang terjadi satu tahun yang lalu, hingga saat ini.
“Jadi, Orangtuaku menyuruh Jennie memberitahumu aku sudah meninggal agar kau tidak mencariku lagi?” Matanya terbelalak tidak percaya.
“Hanya itu kemungkinan yang dapat kupikirkan, kecuali.. kau memang tidak ingin bertemu denganku lagi.” Aku menatapnya.
“Kau tahu itu tidak mungkin,” Nana mencubitku sambil tertawa. “Oh ya, dan menurutku kau.. tidak seburuk yang kuduga.”
“Apa maksudmu? Kau mau mengatakan aku buruk rupa?”
“Tidak, tidak, maksudku..”
Aku mencium bibirnya sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya. Dan sekarang aku menyiapkan telingaku untuk mendengarkan makiannya.
THE END

FF - Falling For Your Soul - Chapter 6



CHAPTER 6 : ALL I WANT IS YOU
Sudah dua hari ini aku tidak mendengar kabar darinya. Kenapa laki-laki itu tidak mengangkat teleponku, aku menggerutu dalam hati. Pikiran buruk melintas dalam benakku. Apa dia marah padaku? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Bagaimana kalau aku tidak dapat bertemu dengannya lagi? Apa dia sudah menyelesaikan tugasnya? Aku membaca buku itu sampai selesai, dan sejauh yang aku tahu sudah hampir dua bulan aku mengenalnya. Itu berarti sudah tidak banyak waktu yang dia miliki, dan kapan pun dia dapat meninggalkanku. Ah, Seandainya saja dia tahu aku sangat mengkhawatirkannya, sesalku.

Aku berpapasan dengannya saat keluar dari ruangan para pengajar. Aku melihatnya. Dia balas memandangku. Aku terkejut melihatnya menggandeng tangan seorang gadis yang tidak kukenal. Benakku bertanya-tanya, siapa perempuan itu? Mereka saling bercengkrama, lalu dia memeluk gadis itu. Aku seperti berdiri terpaku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Seketika dadaku rasanya sesak. Aku berusaha menahan air mataku. Jadi begini caramu. Aku mengkhawatirkanmu dan kau malah bersenang-senang dengan gadis itu. 

Setelah itu dia kembali memandangku, dan aku melihat perasaan bersalah dalam tatapan matanya. Aku berbalik dan beranjak pergi tanpa menghiraukannya sambil berharap dia akan memanggil namaku. Tapi aku salah. Dia bukan Bobby, dan dia tidak mencintaiku.

“Dimana kunci mobilku?” Tanyaku mengejutkan Jennie, kemarin dia meminjam mobilku untuk pergi bersama kekasihnya.
“Aku meletakkannya di laci mejamu. Kau mau kemana?” Dia balas bertanya.
“Aku perlu menenangkan pikiranku,” Aku melangkah pergi dengan keadaan sangat kacau. Bekas air mata yang mengering masih tergambar jelas di pipiku. Banyak pikiran berkecamuk dalam otakku. Ayah dan ibuku tidak akan mengijinkanku mengemudikan mobil jika melihat keadaanku seperti ini. Tapi kurasa mereka akan baik-baik saja, mereka baru akan tiba disini sore nanti.

***

Aku melihatnya menangis. Aku tidak punya pilihan lain selain melihatnya menangis. Keputusanku sudah bulat untuk tidak menyelesaikan tugasku. Rencanaku berbalik. Aku akan membuat gadis itu membenciku, sehingga akan menjadi lebih mudah baginya untuk melupakanku bila tiba-tiba aku harus meninggalkannya.

Sulit rasanya melihat orang yang kau cintai terluka karena sikapmu terhadapnya. Aku menyukainya, aku menyukai gadis itu. Tapi aku harus menahan egoku, meskipun aku menyesal telah menyakitinya.

Telepon genggamku tiba-tiba berdering. Aku mengangkat teleponku dan mendengar suara seorang perempuan yang berbicara sambil menangis tersedu-sedu. Jennie. 

***
Langkah kakiku semakin lama semakin cepat saat aku menyusuri lorong rumah sakit ini. Beberapa kali aku bertanya untuk memastikan aku berada di lorong yang tepat. Sesampainya aku di depan sebuah ruangan bertuliskan “Emergency Room”, aku disambut dengan sebuah ketegangan yang belum dapat kupahami. Aku melihat Jennie sedang menangis di sudut ruang tunggu, dan sepasang pria dan wanita sedang tertunduk lesu menantikan kabar baik dari dalam ruangan itu. Mereka pasti orang tua Nana.

“Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa...?” Aku berusaha bertanya apa yang terjadi. Tetapi tak seorangpun dapat memberikanku jawaban. 

Aku berjalan mondar-mandir tak tentu arah. Aku tak ingin kehilangan dia, bukan begini yang seharusnya terjadi, aku memaki diriku sendiri.

Seorang dokter yang masih menggunakan pakaian operasi keluar dari ruangan dan menemui kami.

“Keadaannya kurang baik, dia mengalami cedera kepala yang cukup parah serta mengalami kesulitan bernapas. Kalau dia dapat bertahan dua atau tiga hari lagi, masih ada kemungkinan dia akan selamat.”

Pasti, dia pasti dapat bertahan, kataku dalam hati. Aku tidak dapat membayangkan kehilangan dia. 

Dua hari berlalu dan aku masih terus menunggunya, aku masih menunggunya untuk dapat berbicara lagi denganku, menunggu untuk melihat senyumannya, dan menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkannya.

“Dia ingin berbicara denganmu,” Jennie menyuruhku masuk. “Berjanjilah padaku, kau akan memperlakukannya dengan baik.”

Aku mengangguk dan beranjak memasuki sebuah ruangan. Aku tiba disebuah ruang perawatan intensif dan menghentikan langkahku tepat di samping tempat tidurnya. Aku melihat wajahnya dengan dahi dibalut perban. Aku melihat selang-selang yang terpasang pada tubuhnya. Serta sebuah monitor yang menampilkan detak jantungnya. Dia memandangku sambil tersenyum. Aku tidak mampu berkata-kata, berulang kali aku hanya mengucapkan kata maaf dan mengatakan aku mencintainya. 

“Siapa namamu?” Tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.
Aku hanya tertunduk dan tidak menjawab saat dia melanjutkan pertanyaannya,
“Aku tidak bertanya siapa kau, apakah kau seorang impersonator, aku bertanya siapa namamu.”
Aku sangat terkejut dengan pertanyaannya namun akhirnya aku menjawab, “Minho, namaku Song Min Ho.”
“Akhirnya aku tahu namamu. Setidaknya aku akan dapat mengingatmu saat kau tidak ada,” Sahutnya sambil tersenyum.
Kata-katanya membuat air mataku tak terbendung lagi. Dia tahu siapa aku, tapi sejak kapan, dan kenapa dia tidak mengatakan apa-apa.
“Apa yang dapat kulakukan untuk membantumu?” Nana bertanya lagi.
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Tapi.. apa kau mau menikah denganku?”
Nana menatapku. Aku tahu ini tiba-tiba, tetapi aku ingin melamarnya, bukan untuk Bobby tetapi untuk diriku sendiri.
“Ya, Aku mau. Aku menyukaimu, Song Minho.”
Bersamaan dengan kata-kata terakhirnya, detak jantungnya tak terdengar lagi. Para dokter dan perawat berlarian berpacu dengan waktu untuk menyelamatkannya. 

“Apa yang kau lakukan pada Nana? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau membiarkannya pergi? Aku tidak ingin melihatmu lagi!” 

Kemarahan mereka mengusirku dari ruangan itu. Aku berjalan keluar lorong rumah sakit dengan perasaan sangat sedih. Setiap langkah yang kuambil terasa goyah. Aku tidak menyangka Nana tahu sebanyak ini tentangku, dan dia menyukaiku. Aku menyesal. Tetapi semua sudah terlambat. Aku mungkin akan kehilangan dia selamanya.

***

Sudah satu hari aku mengurung diri dalam kamarku. Aku membereskan semua barang-barangku. Semua peralatan elektronik, buku-buku, sampai telepon genggam dan dompet yang biasa kugunakan. Aku berniat menyingkirkan semua kenangan tentangku dari tempat ini. 

Sambil membersihkan semuanya, aku menemukan selembar foto. Fotoku bersama Nana. Mungkin ini satu-satunya foto kami bersama. Aku tidak akan pernah melupakannya, meskipun dia telah meninggalkanku. Ya, kemarin aku mendapat pesan singkat kalau dia telah pergi untuk selamanya. Hatiku hancur mendengarnya. 

Dan sekarang sudah waktunya bagiku untuk meninggalkan tempat ini. 

FF - Falling For Your Soul - Chapter 5



CHAPTER 5 : FALLING IN LOVE, FALLING APART

“Hey, Bobby! Someone’s looking for you!”
“Where?”
“I’m not sure. But she’s here.. until ten minutes ago.”

Aku tidak menghiraukannya dan berlalu pergi sambil memikirkan rencanaku berikutnya. Aku tahu Nana sudah tidak marah padaku. Dia sudah dapat menerima keberadaanku. Namun tetap saja, dalam sisa waktuku yang kurang dari satu bulan aku harus melamarnya dan mendapat jawaban “ya,” suatu hal yang hampir mustahil dapat kulakukan.

Langkahku terhenti setelah melihat sosok yang kukenal. Nana sedang duduk melamun seorang diri di bangku taman. Raut wajahnya tidak menunjukkan keceriaan seperti yang ditunjukkannya saat pertunjukan siang tadi. Raut wajahnya dipenuhi kebingungan.

“Hai, kau mencariku?” Perkataanku yang tiba-tiba sangat mengejutkannya.
“Oh, tidak, aku hanya..” Sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu.
“Kau merindukanku?” Pertanyaanku membuatnya semakin terbelalak tak percaya.

Dia memperhatikanku dengan sangat seksama lalu kemudian dia berkata, “Hanya karena kita telah berbaikan tidak berarti aku akan merindukanmu.” Nada jengkelnya sedikit menggodaku.

“Baiklah nona cantik, kau tidak perlu merindukanku tetapi kau juga tak perlu menekuk wajahmu seperti itu,” Kata-kataku berhasil menyunggingkan senyum diwajahnya. Aku tahu kau masih mencintai Bobby, kataku dalam hati. Ada perasaan senang tetapi sekaligus sedih di dalam hatiku.

Kami berbicara dan bercanda sampai malam tiba dan akhirnya berpisah. Sekembalinya aku ke dalam kamarku, James kembali menghujaniku dengan ocehannya. 

“Have you met her?”
“Why?”
“I know you had! See? You’re smiling! I see you’re so happy everytime you meet her.”
“You’re wrong.”
“You’re falling for her. Watchout! There’s a boy falling in love in this room!”
“Hey you, shut up!” 
Aku melemparkan bantal ke arahnya dan menarik selimut menutupi tubuhku. Sambil berbaring, aku memikirkannya. Aku menyukainya? Tidak, tidak, aku hanya melakukan tugasku.

***


Kau tahu, perasaan paling tidak menyenangkan bagiku adalah saat aku menyimpan rasa penasaran tetapi tidak dapat menanyakan langsung kepada orang yang dimaksud.

Aku sedang duduk di bangku taman sambil membiarkan pikiranku melayang dengan bebas saat tiba-tiba dia menyapaku. Aku sangat terkejut. Tanganku gemetar dan mulutku membeku saat aku memikirkan kalau-kalau yang kubaca tentang dirinya adalah benar. Siapa dia sebenarnya?

Ketidaksanggupanku menanyakan identitasnya membawaku lebih jauh mengenalnya. Kami bercengkrama sepanjang sore. Walaupun ada perasaan takut yang tidak masuk akal dalam diriku, tapi pada akhirnya aku menyadari dia tidak menyeramkan seperti yang kubaca, dia hanya seorang laki-laki biasa. Dan semakin aku mengenalnya, semakin dia tidak tampak seperti Bobby. 

Mulai dari sifat dan sikapnya, kepribadiannya, cara berbicara, cara berjalan, cara dia menatapku, dia menggunakan caranya sendiri. Kau ini aneh, bagaimana kau dapat meniru seseorang kalau kau tidak mempelajari kepribadiannya, kata-kataku tertahan di dalam hati. 

“Kau melamun lagi!” Seruan Jennie lagi-lagi mengejutkanku.
“Bisakah kau berhenti mengejutkanku? Aku bisa jantungan kalau kau terus melakukan ini.” Jawabku bernada kesal.
“Kau yang seharusnya berhenti melamun. Melamun tidak akan menyelesaikan tugas-tugasmu,” Serunya sambil menunjuk ke arah mejaku.

Aku memandang setumpuk kertas berisi tugas-tugasku yang seharusnya sudah kuselesaikan sejak tadi sore. Namun karena pikiranku sedang kacau, aku urung mengerjakannya. Beginilah akibatnya, mungkin malam ini aku terpaksa kurang tidur. 

“Kau pasti menyukainya, Bobby, laki-laki itu, ya, kau pasti menyukainya.”
“Berhenti menggodaku, atau aku akan menjodohkannya denganmu.”
“Kau yakin? Menurutku dia lumayan. Kau tidak akan menyesal?”
“Aku.. tidak.. “
“Kena kau!” Jennie tertawa terbahak-bahak. 

Penghapusku melayang dan mendarat tepat di dahinya dan seketika dia berhenti tertawa, Jennie menunjukkan wajah kesal yang dibuat-buat, lalu masuk kedalam selimutku. Aku tidak menghiraukannya, aku mengambil alat tulis lalu mulai mengerjakan tugasku. 

Aku menyukainya? Tidak, tidak, aku hanya merasa penasaran. Hanya itu.

***

Dua minggu kemudian...

Sial. Pagi ini aku terlambat bangun. Alarmku memutuskan untuk tidak membangunkanku hari ini. Menyebalkan sekali, aku akan menggantimu sepulang kuliah nanti.

Sir Nichols adalah seorang yang sangat taat aturan. Dia tidak akan membiarkan siswa yang terlambat masuk ke kelas dan mengikuti pelajarannya. Sebelum aku dimaki di hadapan seisi kelas, aku memutuskan untuk berbalik dan tidak melanjutkan langkahku menuju ruang kelas. Aku menaiki tangga yang terletak beseberangan dengan sebuah pintu menuju sebuah ruang kecil tempat dulu aku biasa melihat Nana memainkan pianonya. Tak banyak yang tahu ada sebuah ruangan di bawah tangga itu, dulu aku menggunakan ruang itu untuk bersembunyi sambil memperhatikan Nana berlatih piano. Sekarang aku sudah tidak melakukannya lagi, karena kami sudah tidak lagi bermain petak umpet seperti anak kecil.

Pertemuanku dengan Nana menjadi semakin sering, baik sengaja maupun tidak sengaja. Dalam sebagian besar pertemuan kami, bukan dia yang pertama mencariku, tetapi aku yang pertama mencarinya. Semakin aku mengenalnya semakin aku menyadari dia adalah sosok yang ramah dan menyenangkan, setidaknya sampai sebelum Bobby meninggalkannya. 

Kami bahkan sering bertukar pesan singkat. Dan dari isi pesan singkat kami aku merasa Nana masih menyimpan perasaan pada kekasihnya ini. Ada perasaan tidak nyaman yang kurasakan sekarang. Entahlah. Mungkin aku cemburu pada kekasihnya.

Rasanya tangga-tangga ini tidak ada habisnya. Aku kelelahan sesaat setelah mencapai pintu menuju atap gedung. Beberapa hari ini kondisi fisikku semakin tidak baik, aku menjadi mudah lelah, perasaanku pun menjadi sangat tidak menentu. Mungkin ini suatu pertanda.

“Ahh segarnya!” Aku menghirup udara yang ada di hadapanku dalam-dalam. Sambil merenung, aku teringat pada mimpiku semalam. Aku bermimpi ada disebuah ruangan sempit tanpa udara. Rasanya sesak dan sangat sulit untuk bernapas. Ada kesunyian yang mencekam, tidak ada suara, dan aku hanya bisa mencium aroma wewangian yang dibalurkan pada tubuhku. Dari sebuah jendela kaca aku dapat melihat Nana sedang berdiri bersandar pada dinding sambil menangis, dia berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dihadapannya terdapat sebuah foto, aku tidak yakin siapa yang ada di dalam foto itu. Sebelum aku sempat mendekatinya, aku terbangun dari tidurku.

Perasaan sedih seketika melandaku. Namun aku tidak mau berlarut-larut. Aku harus menyelesaikan apa yang harus ku selesaikan. Aku harus melamarnya. 

Aku memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Jika Nana menolak lamaranku, untuk mempertahankan gengsiku aku akan mengatakan padanya aku hanya bercanda... tetapi tetap saja itu artinya aku telah gagal, dan jika Nana menerima lamaranku, tidak, gadis itu pasti gila jika dia menerimanya, kami baru saja berkenalan. Tapi tunggu dulu, jika.. hanya jika dia menerimanya artinya tugasku berhasil.. lalu aku akan pergi begitu saja... aku akan menghilang ditengah kebahagiaannya.. dan aku akan menghancurkan hatinya lagi. Keraguan menghampiriku. Apa yang harus kulakukan?