CHAPTER 3 : THE BROKEN HEARTED
Aku
tidak dapat tertidur. Kepalaku rasanya sakit, perasaanku pun tidak menentu.
Semua karena gadis itu. Aku teringat pada raut wajahnya saat aku mengatakan
kepadanya bahwa aku adalah kekasihnya. Dia menatapku dengan penuh tanda tanya.
Semua tergambar jelas pada ekspresi matanya yang terbelalak saat menatapku.
Namun tetap saja dia tidak menghiraukanku dan berlalu begitu saja.
Mungkin
dia butuh waktu, begitu kataku dalam hati. Bagaimana kalau besok aku berpapasan
dengannya? Apa dia akan memarahiku? Apa dia akan memperhatikanku? Apa dia tidak
akan peduli dengan apa yang terjadi? Atau dia akan berpura-pura aku tidak ada?
Sebaiknya aku mencoba untuk tertidur, sebelum aku semakin memikirkanya.
***
“See?! Orang yang aku lihat bener dia
kan? And he’s.. pretty much alive,”
ocehan Jennie tak berakhir bahkan setelah kami tiba di dormitory. Malam ini Jennie akan menginap di kamarku.
“Tapi ga mungkin, ini ga masuk akal. There’s no way this is happening...” Aku
masih berusaha menyangkalnya.
“Terkadang
hal yang paling tidak masuk akal bisa jadi hal yang paling membahagiakan loh,”
Sahut Jennie sambil tersenyum usil dari balik selimut yang menutupi tubuhnya
dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Aku
membuka dompetku. Sebuah dompet kulit berwarna cokelat terang, hadiah pemberian
Bobby pada hari ulang tahunku. Didalamnya terdapat banyak kenangan kami
bersama. Foto-foto yang nampak lusuh tidak terawat masih selalu menyegarkan
ingatanku akan senyumnya yang menawan. Meskipun berulang kali aku berniat
membuang semua foto itu namun pada akhirnya aku masih belum sanggup melakukannya.
Aku
memandang wajah yang ada pada foto dalam genggamanku. Wajah yang sama dengan
wajah lelaki yang memandangku di pesta itu satu jam yang lalu. Bagaimana
mungkin ada orang yang sama persis denganmu? Pikirku dalam hati. Sambil
memandanginya, tanpa sadar aku terlelap dan untuk pertama kalinya sejak aku
berada di tempat ini, aku tidak memimpikannya.
***
Matahari
pagi menyapaku saat aku baru saja melangkahkan kakiku keluar dari dormitory dan berjalan menuju gedung
seni pertunjukan musik. Suasana hari ini sangat sepi, libur musim panas dimulai
hari ini. Sebagian mahasiswa sedang berlibur, sementara aku yang tidak
mempunyai tempat tujuan berlibur, memutuskan untuk berlatih piano untuk pertunjukan
amal kami bulan depan.
Aku
sedang memainkan piano disebuah ruangan disamping gedung pertunjukan utama saat
seorang laki-laki tiba-tiba saja masuk. Bobby. Tidak, dia bukan Bobby.
Bagaimana dia bisa tahu aku ada disini? Apa dia mengikutiku? Pikiran buruk
seketika melandaku. Laki-laki itu sepertinya memahami rasa takutku.
“Aku..
sedang berada di atap gedung ini dan samar-samar kudengar seseorang bermain
piano, lalu.. aku.. berusaha mencari tahu,” Sahutnya berusaha menjelaskan
keberadaannya.
“Aku
tidak tahu siapa kau dan aku tidak peduli apa yang kau lakukan! Asal kau tahu,
kau tidak akan pernah menjadi Bobby! Dia sudah meninggal setahun yang lalu...
dan sekarang.. aku sangat membencinya..” Suaraku bergetar, nada suaraku semakin
meninggi. Aku berusaha menahan air mata yang akan mengalir. Aku melihat
laki-laki itu semakin mendekat.
“Jangan
dekati aku!” Seruku.
Kemudian
dia berhenti mendekat. Aku membereskan barang-barangku dan hendak meninggalkan
ruangan itu saat dia memanggilku.
“Nana.
Tunggu dulu. Kau membutuhkan tempat ini. Aku yang seharusnya pergi. Maaf aku
telah mengganggumu.”
Aku yang seharusnya pergi...
Kata-kata
itu terus terngiang dibenakku hingga rasanya sangat menyesakkan. Aku
memandangnya berlalu meninggalkanku seorang diri. Air mataku pun jatuh tak
tertahankan. Jauh didalam hatiku aku merindukannya.
***
Satu
bulan berlalu dan aku tidak lagi melihat keberadaannya di sekitarku, tapi perasaanku
mengatakan dia selalu mengawasiku. Aku sadar sikapku kepadanya terlalu
berlebihan. Aku merasakan sakit hati yang luar biasa saat Bobby meninggalkanku,
mungkin itulah mengapa aku melampiaskannya kembali pada laki-laki itu.
“Hey! Ngelamun aja daritadi. Mikirin siapa sih?”
Jennie menggodaku.
Aku tidak menjawabnya.
“I knew it!
You’re thinking about him?”
“What? Him?
Why? No..”
“See! You’re
smiling.”
“I feel
guilty, I wasn’t supposed to say that.”
“Then go!
Apologize to him!”
“I don’t even know where he is.”
Hari
ini adalah hari pertunjukan amal kami. Ada sebagian dari diriku yang
mengharapkan dirinya untuk datang. Pertunjukan kami hampir dimulai dan saat
harapan itu mulai menghilang, aku melihat sosoknya di bangku penonton. Aku
tidak mempercayai apa yang kulihat. Dia tersenyum memandangku dan aku bisa
membaca gerak bibirnya dengan jelas, dia berkata, “Semangat Nana, kau pasti
bisa,” sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Aku
membalas senyumnya dan untuk pertama kali sejak bertemu dengannya aku ingin
mengenalnya.
No comments:
Post a Comment