CHAPTER 2 : MY NAME IS BOBBY
“Aaahh hujan! Kenapa tiba-tiba hujan? Musim yang
sangat tidak menentu!” gerutu gadis itu.
“Aku membawa payung, kau mau meminjam?” aku tergerak
menawarkan bantuan.
Gadis
itu menoleh mendengar suara di belakangnya, “Apa? Siapa kau.. Bo..Bob.. Bobby?”
suaranya tergagap. Sesaat kemudian suasana berubah menjadi sunyi. Hanya suara
hujan menjadi pengiring saat aku berulang kali memanggil namanya. Namun tidak
ada jawaban. Gadis itu tidak sadarkan diri dalam dekapanku.
Bukan
hal yang aneh bagiku melihat seseorang tidak sadarkan diri setelah melihat rupaku.
Seseorang yang kau yakin telah dimakamkan seketika muncul dihadapanmu. Sebagian
orang menganggapku hantu, sebagian lagi menganggap dirinya berhalusinasi saat
melihatku. Terserah apa tanggapanmu tetapi hari ini jelas bukan hari yang
terburuk.
Aku
pernah merasakan dimaki, dipukul, dilempar menggunakan sepatu, meja, kursi,
bahkan garam saat tiba-tiba muncul di rumah seorang ayah yang kehilangan anak
tunggalnya. Itulah mengapa sebagian besar pekerjaanku harus dikerjakan secara
diam-diam, untuk menghindari kau berteriak ketakutan bisa suatu hari kau
bertemu denganku. Pekerjaan yang sangat menarik, bukan?
***
“Nana.. Nana.. kau sudah sadar? Kau bisa
mendengarku?” suara Jennie samar-samar membangunkanku. “Apa kau baik-baik
saja?”
“Ya,
kurasa aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya terlalu lelah...” suaraku tertahan
saat aku mengingat pertemuanku dengan Bobby. Apakah ini nyata, atau benar-benar
hanya halusinasiku.
Aku
memandang ke sekeliling ruangan berusaha mencari lelaki itu, namun aku tidak
dapat menemukannya. Ya, mungkin aku terlalu merindukannya sampai aku
berhalusinasi.
“Ayo, kuantar kau kembali ke kamarmu.”
“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?”
“Tidak lama. Sekitar satu jam. Mereka bilang seorang
laki-laki membawamu kemari.”
“Laki-laki?...”
“Apa
yang kau lakukan ditengah hujan? Kau tidak sengaja melakukannya untuk membuatku
khawatir bukan?”
Aku
tidak menjawab dan hanya tersenyum kepada sahabatku ini. Kami keluar dari ruang
kesehatan dan berjalan di sepanjang koridor menuju dormitory sambil terus berpikir. Saat sesosok bayangan menghentikan
langkahku.
“Tunggu, kurasa aku melihat sesuatu.”
“Apa? Dimana?”
“Dibelakang kita, dia mengawasi kita. Sama seperti
yang dia lakukan kepadaku, dia mengawasiku.”
“Kau
sangat aneh hari ini. Aku tidak yakin dengan ucapanmu. Sepertinya kau memang
terlalu lelah.”
Jennie mendorong tubuhku dan memaksaku mengikuti
langkahnya, aku tidak mampu berkutik. Oh, Nana, apa yang telah terjadi padamu
hari ini.
***
Aku
merebahkan tubuhku di ranjang dengan perasaan bingung. Aku hampir tertangkap
sedang mengikuti mereka. Gadis itu sangat peka, pikirku dalam hati. Ini tidak
masuk akal, bagaimana caranya aku dapat bertemu dengannya lagi dan mengatakan
bahwa aku adalah Bobby, kekasihnya. Dia akan berteriak memakiku, melempariku
dengan barang, atau bahkan lebih buruk dia akan jatuh tidak sadarkan diri saat
melihatku.
“Hey, Bob, are
you coming tomorrow?” suara James membuyarkan lamunanku.
“What?
Tomorrow?... Aah.. I forgot.. the mask party. Sorry, I don’t think I’m coming.”
“Why? Oh come
on, you’re gonna wear a costume, you’re gonna wear a mask, noone’s gonna
realize that’s you. You can talk to anyone you want.”
“You’re not
cheating your girlfriend, right?”
“How dare you! I’m not that kind of
man.”
Pesta
topeng yang diadakan kampus kami merupakan acara tahunan untuk semua mahasiswa.
Syarat mengikuti pesta ini sangat mudah kau hanya harus menggunakan topeng. Tunggu..
menggunakan topeng.. kalau aku menggunakan topeng, mungkin aku akan dapat
berbicara dengan Nana tanpa membuatnya ketakukan atau jatuh pingsan. Mungkin
aku perlu mencobanya.
“I’m coming
tomorrow.”
“You’re weird
man. You’re hiding something.”
Aku
tidak berniat menjawab dan hendak kabur sebelum dia bertanya semakin jauh saat
tiba-tiba James melingkarkan lengannya yang kekar di leherku serta kakinya
mengunci tubuhku sehingga aku tidak dapat bergerak.
“Okay, okay, I’m telling you. Let
me go first.”
James
melepaskan tubuhku dan aku mulai bercerita. Aku menceritakan pertemuanku dengan
gadis itu, bagaimana dia ketakutan melihatku, tentu saja aku tidak menceritakan
siapa aku. Kalau aku menceritakannya, James adalah orang berikutnya yang akan
berteriak ketakutan.
“Do you really
know her?” tanya James di akhir pembicaraan kami
“I can’t even
get close to her.” Aku membela diri.
“Have you ever
heard about social media?” James menertawakanku.
Pertanyaan
terakhir James membuatku merasa menjadi orang yang sangat primitif. Aku
menjitak kepalanya dan sesaat kemudian mulai masuk kedalam kesibukanku di depan
laptop. Aku mencari segalanya tentang gadis itu, tanggal lahirnya, makanan
kesukaannya, warna kesukaannya, kegiatan favoritnya dan segala sesuatu tentang
Bobby. Sejenak aku tersadar ini pertama kalinya aku berusaha sekeras ini untuk
menjadi orang lain.
***
Bagaimana
aku dapat menemukannya? Ruangan ini berisi ratusan orang. Ratusan gadis
berpakaian pesta dengan topeng menutupi wajahnya. Seharusnya aku melupakan ide
ini sebelum aku terjebak di lautan manusia seperti ini, namun sudah terlambat.
Aku mengamati keadaan sekitarku, mengamati setiap orang yang sedang
bercengkrama sambil memegang gelas minuman ditangannya, mengamati setiap orang
yang sedang menari ditengah lantai dansa, mengamati setiap postur dan gerak
tubuh orang-orang yang berlalu-lalang.
“Hey, miss, be
careful!” di ujung ruangan tampak seorang gadis yang
tersandung kaki seorang pria.
“Oh, I’m so sorry,”
jawab gadis itu sambil membungkukkan badan.
Aku
rasa aku mengenal suara itu dan gerak tubuh itu. Aku memutuskan untuk
mengikutinya. Tidak ada salahnya, siapa tahu perasaanku benar. Langkahku
terhenti oleh sebuah pintu dihadapanku. Ada sebuah tulisan di pintu itu : Ladies Restroom. Aku menempelkan
telingaku ke pintu dan berharap dapat mencuri dengar pembicaraan dari dalam.
Aku pasti terlihat sangat menjijikan sekarang, menguping pembicaraan di toilet
wanita.
“Oh God, that
guy is so hot! You see him, right?”
“Oh, that one
tackling me with his legs.”
“He wants to
know you.”
“You’re so
funny.”
“Nanaaa I’m so
serious. Why don’t you go asking for his name?”
“Why don’t you?”
Suara
tawa terdengar dari dalam. Itu dia. Itu pasti Nana. Pintu toilet terbuka
tiba-tiba dan sangat mengejutkanku. Dua orang gadis keluar dan aku melihatnya. Mereka
balas menatapku, namun beruntung sepertinya mereka tidak menyadari apa yang
kulakukan. Aku memutuskan untuk menarik tangan Nana dan membawanya ke sudut
ruangan yang sepi.
“Hei,
hei, apa-apaan sih?” seru Nana sambil berusaha melepaskan tanganku. “Kamu
siapa? Ngapain sih.. “ kata-katanya terhenti saat dia menyadari siapa aku.
No comments:
Post a Comment