CHAPTER 7 : AWAKENED
Seoul, Korea Selatan.
“Minho! Minho! Apa kau dapat mendengarku?” Sebuah
suara memanggilku saat aku baru membuka mataku.
“Syukurlah kau sudah sadar.”
“Apa yang terjadi? Dimana aku?”
“Tenanglah, kau akan baik-baik saja.”
“Dia tersadar dari tidur panjangnya selama lebih
dari lima tahun, dia laki-laki yang luar biasa.”
Aku tersenyum sambil memandang orang-orang
disekelilingku, namun pandanganku kembali kabur dan aku kembali jatuh tertidur.
***
London, Inggris. Satu tahun kemudian..
“Oh yeah, this
is the one and only Song Minho! Congratulations, bud, you get that full
scholarship. I envy you.”
“Haha, thanks! And
I envy you for your girlfriend.”
“Don’t you dare!”
“I’m just
kidding. I have another place to go. See you later.”
Aku
berjalan meninggalkan papan pengumuman yang menampilkan namaku sebagai penerima
beasiswa penuh institusi ini untuk dua tahun kedepan dan segera menuju tempat
favoritku.
Aku memandang anak tangga dihadapanku, setelah
berjalan beberapa menit akhirnya aku tiba di depan sebuah pintu. Aku membuka
pintu di hadapanku dan tampak sebuah ruang terbuka yang cukup luas. Dari tempat
ini kau dapat memperhatikan lingkungan disekitarmu dengan leluasa. Ya, kau
dapat melakukannya, sama seperti yang kulakukan satu tahun yang lalu, aku
memandang gadis itu dari tempat ini. Dan sekarang aku telah kembali kesini. Nana,
aku sangat merindukanmu, apa kau juga merindukanku? Tanyaku dalam hati.
Suara
dentingan piano menyadarkanku dari lamunan panjangku. Aku terdiam sejenak dan
akhirnya memutuskan untuk kembali sambil mencari sumber suara itu.
Sebuah
ruang kecil disamping gedung pertunjukan utama masih tertata dengan rapi. Cat di
dindingnya, perabotan di dalamnya, dan sebuah piano tua yang masih menghasilkan
suara yang merdu, masih persis sama seperti dalam ingatanku satu tahun yang
lalu.
Lalu
aku melihat gadis itu sedang duduk di depan piano. Jari-jari lincahnya
berlarian kesana kemari di atas tuts-tuts piano. Senyum tersungging di
wajahnya. Nana. Gadis itu ada disini. Aku tidak mempercayai penglihatanku
sendiri. Aku menatapnya, sesaat dia tersadar dan berbalik menatapku. Mata kami
bertemu. Ada keheningan yang seketika tercipta.
“Oh sorry, do I
know you?” Tanyanya memecah keheningan.
“Nana?” Aku balik bertanya.
“Ya, dan kau..?”
“Sudah berapa lama kau ada disini? Berapa lama lagi
waktu yang kau punya?” Aku bertanya untuk memastikan kalau-kalau dia seorang impersonator sepertiku dulu.
“Tunggu! Kau bisa berbahasa Korea? Siapa kau? Apa
maksudmu? Kau mahasiswa baru? Aku sudah disini jauh lebih lama dari...”
Aku
mengenal ekspresi itu. Ekspresi yang selalu penuh tanya. Sebelum ia sempat
menyelesaikan kata-katanya, aku mendekat dan memeluknya erat.
“Minho?..
Song.. Minho?” Tanyanya ragu-ragu.
Aku
menjawab dengan anggukan. Dia masih mengingatku sama seperti aku mengingatnya.
“Tapi bagaimana mungkin? Kau masih hidup?” Nana
memandangku dengan tatapan tidak percaya.
“Aku
juga ingin menanyakan hal yang sama padamu.”
Untuk
sesaat kami melupakan apa yang telah terjadi, kami berpelukan erat untuk
melepas kerinduan yang telah lama ada.
“Apa
kau ingin aku menceritakan kisahku?” Tanyaku, “Baiklah, tapi kau harus berjanji
kau tidak akan berteriak ketakutan, ataupun jatuh pingsan saat mendengarnya.”
Aku tersenyum menggodanya.
“Mudah
saja, aku tidak akan memercayaimu kalau menurutku ceritamu tidak masuk akal.”
Nana berbalik menggodaku dengan senyumnya. Aku tidak merasa keberatan sama
sekali.
Selama satu hari penuh kami saling bercanda sambil
bertukar cerita. Dimulai dari apa yang terjadi satu tahun yang lalu, hingga
saat ini.
“Jadi, Orangtuaku menyuruh Jennie memberitahumu aku
sudah meninggal agar kau tidak mencariku lagi?” Matanya terbelalak tidak
percaya.
“Hanya itu kemungkinan yang dapat kupikirkan,
kecuali.. kau memang tidak ingin bertemu denganku lagi.” Aku menatapnya.
“Kau tahu itu tidak mungkin,” Nana mencubitku sambil
tertawa. “Oh ya, dan menurutku kau.. tidak seburuk yang kuduga.”
“Apa maksudmu? Kau mau mengatakan aku buruk rupa?”
“Tidak, tidak, maksudku..”
Aku mencium bibirnya sebelum dia sempat
menyelesaikan kata-katanya. Dan sekarang aku menyiapkan telingaku untuk
mendengarkan makiannya.
THE
END
No comments:
Post a Comment