CHAPTER 4 : THE IMPERSONATOR
Dua
bulan berlalu, aku hanya memiliki sisa waktu satu bulan lagi. Sejak satu bulan
yang lalu, hal yang dapat kulakukan hanya memandanginya dari kejauhan, tepatnya
sejak aku melihatnya menangis di gedung pertunjukan musik. Aku berusaha untuk
tidak berpapasan dengannya, aku selalu bersembunyi. Aku tidak ingin mengorek
luka lama itu lagi. Dia telah mengalami banyak hal menyedihkan, mungkin aku
hanya harus bersabar. Entah sampai kapan.
Aku
melihat kalender yang tergantung di dinding kamarku. Hari ini adalah hari
pertunjukan amal kampus kami. Aku memikirkannya sejak semalam apakah aku akan
datang atau tidak, apakah Nana akan terkejut saat melihatku, apakah sikapnya
akan tetap dingin seperti sebelumnya, terlalu banyak pikiran berkecamuk di
dalam benakku. Ah, wanita memang selalu
rumit. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku berusaha mendekati
seorang gadis.. ya, mungkin aku lelah karena terlalu sering menjadi orang lain,
hingga aku melupakan diriku sendiri..
Aku
memutuskan untuk datang. Aku akan menemuinya, bukan sebagai kekasihnya tetapi
sebagai diriku sendiri. Setidaknya kalau aku akan gagal dalam tugas terakhirku,
aku akan menikmati sisa hidupku sebagai diriku sendiri, bukan sebagai orang
lain.
Tak
lama setelah aku duduk di bangku penonton, mata kami beradu. Tiba-tiba aku
merasakan jantungku berdebar-debar. Aku tersenyum dan memberinya semangat, dia
membalasku dengan tersenyum. Untuk sesaat aku tidak tahu apa yang sedang
terjadi.
***
Mungkin
dia masih peduli kepadaku. Tidak, maksudku mungkin dia masih peduli pada
kekasihnya. Aku bergumam dalam hati.
“Hai,” Sebuah suara yang kukenal menyapaku.
“Pertunjukan yang luar biasa! Kau benar-benar
hebat!”
“Kau berlebihan,” sahutnya, “Terima kasih kau mau
datang.”
Suasana membingungkan masih menyelimuti kami.
“Aku.. minta maaf. Hari itu aku terlalu berlebihan.
Mungkin karena aku terlalu terkejut melihatmu. Aku bahkan tidak mengenalmu.”
Pintanya penuh penyesalan.
“Baiklah, aku akan memaafkanmu tetapi dengan satu
syarat, kita harus berkenalan. Kenalkan, namaku Bobby,” Sahutku sambil
tersenyum usil.
“Baiklah,
setidaknya aku bisa memanggilmu Bobby. Meskipun aku tidak sepenuhnya
mempercayaimu,” dia membalas senyumanku.
“Here you are!
We’ve been looking for you anywhere!” Seorang teman Nana yang
kukenali sebagai pemain biola pada pertunjukkan tadi datang menghampiri kami.
“Sorry. Shall we
go now?”
“We’re going to
the book store, are you coming with us?”
“No, I’m fine.
I’ll see you later.” Sahutku memberi jawaban. Aku merasa
tidak enak badan dan memutuskan untuk kembali ke dormitoryku.
***
Aku
bukan seorang kutu buku. Aku lebih senang bermain musik daripada membaca buku
untuk mengisi waktu senggangku. Hari ini pun aku terpaksa menepati janji pada
temanku untuk menemaninya ke toko buku, sebagai ganti alasan-alasan yang
kuberikan untuk tidak mengikuti pelajaran di kelas.
“I’m coming this way. Let’s meet
here in one hour, okay?”
Kami
berpisah karena aku bukan penyuka sastra. Belajar sastra dalam bahasaku sendiri
sudah cukup sulit, aku tidak ingin menambah beban otakku dengan belajar sastra
Bahasa Inggris. Tidak, tidak. Aku lebih memilih melihat-lihat tumpukan
buku-buku dengan genre non-fiksi.
Sesaat mataku memindai kalau-kalau ada buku yang menarik perhatianku. Dan
disanalah buku itu berada, diatas sebuah rak tua berwarna cokelat yang hampir tertutup
seluruhnya oleh debu. Mungkin buku-buku di rak ini bukan favorit pembeli. Aku
bergumam dalam hati.
Buku
itu berjudul THE IMPERSONATOR. Pada sampul buku itu tergambar sesosok bayangan menyerupai
manusia tetapi bersayap seperti malaikat dan di bawah kakinya terdapat tumpukan
topeng berwajah manusia. Aku melihat halaman terakhir buku itu untuk membaca
ringkasan ceritanya. Satu kalimat yang menyentak dalam benakku.
“Pernahkan
kau bertemu dengan seseorang yang sudah meninggal? Mungkin itu dia! Kau bertemu
sang Impersonator.”
Aku
terkejut dengan apa yang kubaca, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membeli
buku itu. Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkannya.
Aku
membaca buku itu dengan sangat seksama, setiap halaman, setiap lembarnya, aku
memastikan tidak melewatkan informasi apapun. Semakin banyak aku membaca aku
semakin yakin Bobby adalah seorang impersonator. Aku tak tahu siapa nama
aslinya, aku tahu apa yang dikerjakannya. Dia berusaha menyelesaikan keinginan
Bobby. Tapi apa?
“Seorang
impersonator tidak dapat menyatakan dirinya di hadapan orang lain.”
Saat
itu aku menyadari mustahil bagiku untuk menanyakan apakah dia benar-benar
seorang impersonator. Aku bingung. Sangat bingung. Apa yang harus kulakukan?
***
Perasaanku
tidak enak. Jantungku berdetak sangat cepat. Sepertinya aku tidak dapat
bertahan lebih lama lagi.
No comments:
Post a Comment