Judul : Falling For Your Soul
Cast : Raina (Afterschool),
Song Minho (Winner), Bobby (Ikon), additional casts.
Genre : Romantic, Drama, Supernatural,
Angst
Rating : PG
Length : Short
Story
Synopsis : Apa yang akan kau
lakukan kalau kau dapat bertemu kembali dengan orang yang telah meninggalkanmu
untuk selama-lamanya? Takdir memberikan Nana dan Minho kesempatan kedua untuk menemui
orang yang sangat mereka cintai.
Author : Fransiska Marieta
Author Note : This fanfiction was
inspired by Korean Drama “49 Days”.
CHAPTER
1 : BRAND NEW START
Disanalah
dia berbaring, lelaki yang telah mengisi hari-hariku selama tiga tahun ini. Ditengah
riuhnya suasana tempat ini, suara tangisan yang menyayat hati, suara
orang-orang memanggil namanya dan suara langkah para dokter yang berpacu dengan
waktu, hanya satu suara yang tidak terdengar, suara detak jantungnya. Mungkin
beginilah dia akan mati.
”Bobby!
Bobby! Jangan tinggalkan aku!” itulah kalimat terakhirku saat dokter menyatakan
tak dapat menyelamatkan orang yang kucintai. Lalu semuanya berubah gelap dan
aku kehilangan kesadaranku.
***
“Nana.. where
are you going?”
“I beg your
pardon sir but I need to go to the restroom,” beginilah alasanku setiap
kali aku bosan mengikuti suatu kelas.
“Nana!
How dare you leaving me on that class
alone!” sebuah suara yang sangat kukenal memakiku saat aku baru beranjak
beberapa langkah di depan ruang kelas. “Kalo mau cabut ajak-ajak dong.”
Aku
hanya membalasnya dengan tertawa. Dia sahabat baikku, namanya Jennie. Kami
bertemu dan menjadi dekat karena kami sama-sama mencintai musik. Tempat ini,
London Arts Academy adalah tempat pilihanku untuk melanjutkan studiku,
sekaligus tempat yang kupilih untuk melupakan masa laluku.
Sudah
satu tahun sejak kepergiannya dan aku masih belum dapat melupakannya. Mungkin
kalau dia masih hidup, kami sudah menikah sekarang. Ya, Bobby mengalami kecelakaan
saat mendaki gunung dua hari sebelum dia berencana melamarku. Aku sudah
memintanya untuk tidak pergi, tetapi dia tidak mendengarkanku. Menyedihkan
bukan? Kesedihan masih sering menghampiriku saat teringat padanya.
“By the way, Na, I saw
him! Orang yang ada di foto di dompet kamu! Bobby!” Aku sedang melamun saat
tiba-tiba seruan Jennie mengejutkanku.
“Tidak mungkin. You
get it wrong. He’s dead. Dia ga punya adik atau kembaran. Bobby ga mungkin
ada disini,” sahutku meyakinkan Jennie kalau yang dia lihat bukan Bobby,
meskipun dalam hati aku berharap dapat bertemu dengannya lagi.
“No! It’s him!
I’m sure!”
Aku
hanya terdiam sambil terus berjalan dan kembali masuk kedalam lamunanku.
***
Hangatnya
cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kamarku memaksaku untuk
membuka mata.
“Good morning.”
“I’m hungry,
let’s make some breakfast!”
“You do it. I’m
getting back to sleep.”
“Ok, but don’t get angry if your
egg got burnt.”
Kata-kata
James memaksaku untuk bangun dan bergegas menuju dapur dormitory kami sebelum dia menghancurkan sarapan pagiku. Kami
adalah teman sekamar di dormitory
ini. Don’t get me wrong, he is straight
and so am I. He even has a girlfriend.
“What are you
doing today?” tanyanya penuh semangat.
“Classes..
practice room.. the rooftop..?” jawabku sambil
berpikir.
“You’re weird. I’m not asking where
are you going!” sahut James sambil menjitak kepalaku.
Aku tahu dia hanya berusaha bercanda, tapi entah mengapa perasaanku sedang
tidak baik hari ini dan mengakibatkan wajah tampanku menjadi murung.
“You’re looking
for that girl again, aren’t you?”
“Ya, sepertinya begitu,” jawabku dengan bahasa yang
mungkin dia tidak mengerti.
“Who is that girl anyway? Why are
you trying so hard to find her? Hey man, there’s so many hot girls around here.
It doesn’t have to be her, right?”
Aku
hanya terdiam dan tidak berminat menjawab pertanyaannya. Nana adalah tugas
terakhirku, kataku dalam hati.
Namaku
Bobby, tidak, nama asliku Minho, Song Minho. Kau dapat menyebutku impersonator soul. Sebagai impersonator
soul, tugasku adalah menyelesaikan pekerjaan orang-orang yang sudah meninggal,
yang belum terlaksana, agar mereka tidak mengganggu kehidupan di dunia. Tidak
semua orang dapat kutolong dan tidak semua pekerjaan dapat kuselesaikan, hanya
pekerjaan yang membawa kebaikan bagi banyak orang. Sebagai info yang
membanggakan, aku pernah menyelamatkan sebuah perusahaan dari kebangkrutan saat
sang direktur meninggal dunia. Pekerjaan yang sangat mulia, meskipun saat itu
aku harus berubah menjadi seorang kakek tua dengan penyakit parkinson.
Tidak
terhitung sudah berapa kali aku berganti rupa. Setiap rupa hanya bertahan
maksimal tiga bulan dan setelah itu aku akan menghilang begitu saja. Dalam
waktu tiga bulan aku harus menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan. Sudah
lima tahun, sebentar lagi akan berakhir. Sebentar lagi aku akan terbebas. Seandainya
perempuan ini lebih mudah ditemukan. Ingatanku melayang pada percakapan satu
bulan yang lalu.
“Kenapa
harus dia? Kenapa aku harus bantu laki-laki itu? Apa kau tidak tahu betapa
sulitnya harus menjadi orang lain, mendekati seorang perempuan, dan dalam waktu
tiga bulan memintanya menjadi istrimu? Tugas ini terlalu sulit.” Tanyaku
protes.
“Kalau
kau memutuskan menolak, usahamu selama hampir lima tahun ini akan sia-sia dan
kau tidak dapat kembali dengan alasan apapun,” kata-kata penuh wibawa dari
seseorang yang sangat berkuasa. Aku tidak mampu melawannya meskipun aku
berharap mendapatkan tugas yang lebih ringan.
Sudah
satu bulan sejak aku berada di tempat ini, London Arts Academy. Diatap gedung
seni pertunjukan musik ini aku memandang lingkungan sekitar kampus sambil berharap
dapat menemukannya. Namun sia-sia. Sejauh mata memandang yang tampak hanya
sebuah taman di seberang gedung ini dengan jalanan disekitarnya yang relatif
sepi. “Ini tidak biasanya,” pikirku dalam hati. Aku memilih tempat ini untuk
mengamati keadaan sekitarku. Pada hari-hari biasa taman di seberang gedung ini
akan selalu ramai, tempat itu adalah tempat favorit mahasiswa di kampus ini.
“Nana! What
are you doing tonight? Exam is over, let’s have a party with us.” Sebuah
suara samar-samar memaksaku untuk berbalik dan mengurungkan niatku untuk
beranjak pergi.
“Sorry but
I skip. I think I need some rest,”
jawab gadis itu.
“Oh come on.
For this once only,” sahut temannya memaksa.
“No, but thanks for inviting me,” gadis
itu mengakhiri percakapan dan beranjak pergi.
Tanpa sadar aku mengikutinya. Mengikuti setiap
langkah yang diambilnya. Ada perasaan lega sekaligus tidak percaya pada diriku.
Aku menemukannya. Aku menemukan gadis itu.

No comments:
Post a Comment